Jumat, 05 Desember 2008



Dunia Anak
KIAT MEMILIH SEKOLAH

Sekolah yang terbaik bagi anak ternyata tidak harus mahal, atau dilengkapi para pengajar asing. Sebab, yang terbaik adalah yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Tahun ajaran baru segera datang dan itu berarti tiba waktunya kita "berburu" sekolah untuk anak. Bukan hal mudah, memang. Apalagi kini tiap sekolah berlomba menyatakan dirinya yang terbaik dan paling pas untuk anak kita. "Memang," ungkap Indri Savitri, Psi., "orang tua tak bisa sembarangan memilih sekolah bagi anak-anaknya. Seyogyanya, sejak awal orang tua punya perencanaan pendidikan bagi anak. Termasuk pendidikan dasar, karena inilah salah satu dari awal penentu keberhasilan anak."

Kendati begitu, pilihan tak boleh hanya berdasar selera pribadi. Kebutuhan anak pun harus jadi bahan pertimbangan. "Tiap anak punya kebutuhan masing-masing yang bisa dilihat dari gaya belajar dan karakteristiknya. Juga masalah lokasi dan biaya sekolah," saran Indri.

SESUAIKAN DENGAN KEBUTUHAN ANAK

Bicara soal kebutuhan anak, berarti harus dilihat pula apa minat dan bakatnya. Apakah ia condong ke arah kesenian, olahraga, atau murni bidang akademis. Karena itu menjadi sangat penting bagi orang tua untuk meninjau calon sekolah baik secara fisik maupun program akademis, kurikulum, fasilitas, cara mengajar, dan kualitas pendidiknya.

Cermati pula tingkat konsentrasi anak. Ini bisa diperoleh pula lewat bantuan guru TK-nya. Jika ternyata kurang, "Sebaiknya pilih sekolah dengan program belajar terstruktur serta jumlah murid per kelas yang sedikit. Jadi, guru bisa melakukan pendekatan individual dan anak bisa terpantau secara saksama."

Jika anak tergolong pendiam, menurut Indri, carikan sekolah yang memungkinkan adanya kerjasama kelompok, sehingga pelan-pelan ia mau berinteraksi atau mengungkapkan pendapat-pendapatnya secara lugas. "Lambat laun, rasa percaya dirinya juga meningkat dalam bersosialisasi dengan lingkungan."

Sementara jika anak tergolong jenius atau kemampuannya terlihat di atas rata-rata anak seusianya, "Sebaiknya masukkan ke sekolah yang bisa mendukung atau menyalurkan kemampuannya. Sekolah seperti ini biasanya mempunyai kelas khusus, yaitu kelas akselerasi."

Sedangkan sekolah yang memiliki sistem belajar semi bermain atau active learning, lebih pas untuk anak yang tipenya lebih suka main. Sekolah seperti ini juga sesuai untuk anak yang sebelumnya belajar di TK yang lebih menekankan aspek perkembangan motorik, sosial dan emosional, serta tidak menekankan penguasaan baca, tulis, dan hitung.

Jika TK-nya menerapkan komunikasi bilingual, tak apa dia dimasukkan ke SD yang menggunakan dua bahasa juga. "Tapi kalau tidak, lebih baik jangan. Bisa-bisa anak akan bingung dan sulit melakukan penyesuaian diri," ujar Indri. Beda halnya jika selepas SD kita berniat menyekolahkan anak ke sekolah yang menggunakan kurikulum internasional. "Lebih baik sejak SD sudah disekolahkan ke tempat yang menggunakan kurikulum internasional agar tidak keteteran, terutama dalam bahasa Inggris."

PILIHAN ANAK

Langkah berikut adalah "shopping" untuk mencari sekolah yang sesuai. Tentu saja dengan mengajak serta anak. "Tanyakan segala sesuatunya pada pihak sekolah." Minta penjelasan mengenai filosofi, visi, dan misi sekolah tersebut. "Jangan lupa cermati, bagaimana filosofi tersebut tercermin dalam kurikulum sekolah. Sebab, umumnya apa yang dikatakan sebagai filosofi, misi, dan visi tampaknya selalu baik dan memikat, tapi belum tentu sejalan dengan yang diterapkan di kelas. Kalau perlu, cari informasi dari sumber lain seperti kenalan atau kerabat."

Yang juga penting, pilih sekolah yang menjadikan orang tua sebagai partner yang sama-sama berperan aktif untuk memajukan anak didik serta sekolah. Adanya unit atau ahli yang mampu memberi penanganan khusus, misalnya anak-anak yang punya masalah perilaku atau anak yang cerdas, sebaiknya jadi bahan pertimbangan pula.

Umumnya kesempatan "shopping" sekolah bisa dilakukan ketika sekolah-sekolah mengadakan acara "open house" menjelang tahun ajaran baru. "Di sini kita bisa membuat sinkronisasi secara langsung data hasil investigasi dan wawancara dengan pihak sekolah." Malah akan lebih baik lagi jika kita bisa meneliti dengan cara bertanya pada anak dan orang tua yang telah menyekolahkan anaknya di sekolah itu.

Pada saat yang sama, lihat reaksi anak. Kalau memang dia sreg, akan jauh lebih mudah mengembangkan motivasi belajarnya. Kalau tidak, ajak terus anak melihat sekolah lain sampai ia menemukan yang dirasa pas baginya.

Indri juga menambahkan, orang tua juga bisa mendapat pandangan tentang sekolah yang pas bagi anaknya dari lembaga tertentu yang menyediakan jasa tersebut. Misalnya, di LPT UI. "Kami memiliki tes khusus untuk mengetahui kesiapan anak masuk SD," katanya. "Dengan begitu, semua aspek anak bisa terlihat secara jelas. Seperti kemampuan belajar, baca-tulis dasar, dan kepribadian anak."

Gazali Solahudin


Fisik Sekolah Ideal

Fisik bangunan sekolah juga penting diperhatikan. Menurut Indri, sekolah yang baik idealnya harus mempunyai:
· Laboratorium yang lengkap, mulai lab bahasa hingga lab pengetahuan alam dan matematika. Ini amat membantu proses belajar. Di lab, anak bisa terjun dan mencoba secara langsung teori yang diajarkan di kelas.
· Bangunan fisik kokoh. Khususnya kelas, harus memiliki ventilasi udara yang sangat baik. Jadi tak harus ber-AC.
· Pencahayaan pun harus diperhatikan. Kelas harus benar-benar terang.
· Bersih dan jauh dari polusi suara serta udara, semua ruangan, termasuk toilet dan kantin, harus bersih dan sehat.
· Banyaknya anak harus sebanding dengan jumlah guru. Idealnya, jumlah murid dalam kelas di tingkat SD antara 20-25 anak.
· Jika anak kita punya gangguan konsentrasi, jangan memasukannya ke sekolah yang memakai banyak warna dan gambar, baik di kelas maupun di luar kelas karena konsentrasinya akan semakin mudah terpecah.
· Halaman cukup luas, seperti lapangan untuk berolahraga dan taman.

0 komentar:

Popular Posts



Bookmark and Share