Jumat, 05 Desember 2008

Memilih Sekolah Bagi Anak

Memilih sekolah yang tepat buat anak kita ternyata seringkali membuat pusing kepala. Banyak faktor yang perlu dipertimbangkan, banyak pilihan yang membuat bingung, dan banyak saran dari kiri-kanan yang seringkali saling berlawanan. Jadi gimana, dong? Mungkin para orang tua bisa sharing di sini. Menurut pendapat saya pribadi, ada tiga variabel yang perlu dipertimbangkan ketika memilih sekolah anak:
Stamina

Pendidikan anak membutuhkan stamina keuangan yang cukup besar. Untuk itu, kita harus pandai mengukur kemampuan diri. Ibaratnya lari, menyekolahkan anak seperti berlari marathon. Kalau kita terlalu semangat sprint di awal, kita dapat kehabisan nafas pada menit-menit berikutnya. Kalau kita punya uang 20 juta, misalnya, apakah akan kita pakai untuk menyekolahkan anak di SD favorit, atau uang itu ditabung dalam bentuk asuransi pendidikan untuk keperluannya di pendidikan tinggi? Dengan mengasumsikan tingkat bunga rata-rata 15%, uang 20 juta itu bila ditabung akan menjadi 107 juta lebih di saat dia masuk perguruan tinggi.

Namun demikian, penghematan dari segi uang itu dapat berarti sedikit pengorbanan dalam kualitas pendidikan dasar anak. Idealnya memang kita bisa menyekolahkan anak di sekolah yang top dari kecil sampai perguruan tinggi. Namun, tidak semua kita memiliki kemampuan seperti itu dan harus memilih, mana yang harus dikorbankan.

Kalau kita mengacu pada penelitian DR William Danko dan DR Thomas Stanley mengenai 638 miliuner di Amerika Serikat, kesuksesan finansial mereka bukan berasal dari kemampuan akademis. Mereka rata-rata bukan siswa dengan nilai A. Namun demikian, mereka merasakan manfaat bersekolah dan banyak belajar di dalamnya, bukan pada mata inti pelajaran akademis, tapi mengenai bagaimana berdisiplin dan memiliki keteguhan hati.

Selanjutnya, DR Danko & Stanley mencatat bahwa pada kelompok miliuner yang agak “kurang cerdas” (nilai SAT kurang dari 1000):

* 72% mengatakan bahwa kesuksesan finansial mereka disebabkan oleh perjuangan untuk menghilangkan cap “rata-rata atau kurang mampu”.
* 93% mengatakan kerja keras lebih penting dari bakat intelektual tinggi dalam mencapai cita-cita.
* Sebagian besar merasa yang penting dari sekolah adalah mengajari untuk mengalokasikan waktu dan membuat penilaian akurat mengenai orang.

Sebagian besar para miliuner itu juga menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang murah. (Sementara, kelas menengah yang jauh kurang mampu dari mereka menyekolahkan anak-anaknya di sekolah swasta yang mahal.) So? Apa yang perlu diperoleh dari sekolah bukan sebatas kepandaian akademis, namun gemblengan mental untuk disiplin, ulet dan kerja keras. Dan sekolah favorit belum tentu menyediakan “kurikulum” mental seperti itu yang lebih baik.

Sekolah Islam yang mahal belum tentu lebih unggul dalam memberikan “life skills yang dibutuhkan anak. Selain aspek kepribadian yang perlu ditempa, tentu saja aspek keagamaan perlu dipertimbangkan. Sekolahislam model pesantren yang sederhana bahkan seringkali mengajarkan nilai-nilai luhur keagamaan yang tidak diperoleh pada sekolah islam modern yang serba lengkap fasilitasnya.
Konsistensi

Sebagai orang tua, kita diharapkan adil kepada anak. Saya ingat ibu saya yang bersikeras untuk menguliahkan adik perempuan saya, meskipun pada saat itu keuangan keluarga sedang sangat berat karena dua adiknya juga pada saat yang sama masih kuliah. Biasanya, anak perempuan dalam kondisi seperti itu dikalahkan. Namun ibu saya berujar, ” Saya tidak mau disalahkan karena tidak adil. Semua anak harus mendapat kesempatan sekolah yang sama, bagaimana pun beratnya”. Dia memang ibuku yang bijaksana.

Seorang teman saya ada yang mulai merasakan beratnya menyekolahkan anak, karena SPP tiap tahun terus mengalami kenaikan, akhirnya hanya sanggup menyekolahkan anak pertamanya saja di sekolah favorit swasta. Adik-adiknya disekolahkan di SD negeri. Saya melihat bahwa dia tidak konsisten dan mungkin dipersepsikan tidak adil oleh anak-anaknya yang disekolahkan di negeri.

Karena itu, bila anda punya anak lebih dari satu (atau merencanakan lebih dari 1), anda harus berpikir apakah anda akan dapat konsisten/adil ke semua anak dan konsisten untuk terus berada pada jalur biaya tinggi. Jangan nanti begitu dirasa berat, di tengah jalan anak-anak anda dipindahkan ke sekolah yang lebih murah karena anda “kehabisan nafas”.

Ada teman yang menyiasati dengan menyekolahkan anak di sekolah negeri tapi menambahkan les-les di sore hari, dari les agama sampai musik. Les-les sangat menjamur ditawarkan di kota besar. Tinggal pilih mana yang sesuai dengan bakat anak anda. Keuntungan dari les adalah dia dapat diteruskan/dihentikan sesuai “kesehatan kantong” anda. Bila perlu, anda dan istri mengajari sendiri anak-anak dengan pelajaran ekstra di rumah.
Nilai-Nilai

Penting tidaknya menyekolahkan di tempat favorit juga tergantung nilai-nilai yang anda pegang. Ada orang yang menyekolahkan anaknya di tempat mahal agar gengsinya naik. “Jeng, sekolah anaknya di mana? Wah, hebat ya… bisa sekolah di situ. Si anu yang dirjen itu dan si itu yang dirut anu juga anaknya disekolahkan di situ, lho…” Begitu mungkin gunjingan ibu-ibu arisan membanding- bandingkan anaknya (untuk “mengukur” teman bicaranya).

Ada juga teman yang bekerja di bagian sales yang menganggap bersekolah di sekolah bergengsi meningkatkan network dia. Dengan aktif dalam persatuan orang tua murid atau Komite Sekolah, dia mengenal banyak orang yang dapat diprospek atau menjadi referral untuk penjualan produk-produknya.

Teman saya yang bekerja di satu TV swasta lain lagi. Dia berpendapat bahwa nilai belajar tidak dapat diukur dengan uang. Selama dia mampu saat ini, dia akan memberikan yang terbaik untuk anaknya. Komentarnya ketika saya mengeluhkan biaya sekolah yang tinggi:

“Coba kamu bandingkan dirimu dengan orang tuamu. Dulu orang tuamu menyekolahkan kamu mungkin sampai menghabiskan lebih dari 50% pendapatan bulanan mereka. Mungkin juga dengan berhutang sana-sini demi kamu. Biaya sekolah anakmu mahal, tapi apakah sudah mencapai 50% pendapatanmu? Mungkin baru 10%-20% saja. Jadi, dibandingkan orang tuamu, bebanmu masih relatif ringan sekali”

Setelah mempertimbangkan ketiga faktor di atas, Anda mungkin lebih bisa memilih, kira-kira sekolah mana yang tepat bagi buah hati Anda.

0 komentar:

Popular Posts



Bookmark and Share